Senin, 11 November 2013

KINERJA MAKROEKONOMI DORONG NILAI RUPIAH

Nama       : Nurul Janah Syabania
NPM         : 26213729
Kelas       : 1EB20


I.            PENDAHULUAN
Nilai tukar atau yang biasa dikenal dengan kurs adalah rasio pertukaran antara dua mata uang yang berbeda negara. Atau dengan kata lain kurs dapat diartikan sebagai harga satu unit mata uang asing yang dinyatakan dalam mata uang domestik. Nilai tukar rupiah merupakan perbandingan antara nilai suatu uang negara dnegan  negara lain. Nilai tukar rupiah menjadi salah satu indikator ekonomi makro yang terkait dengan besaran APBN. Asumsi nilai tukar rupiah berhubungan dengan banyaknya transaksi dalam APBN yang terkait dengan mata uang asing, seperti penerimaan pinjaman dan pembayaran utang luar negeri, penerimaan minyak dan pemberian subsidi BBM. Dengan demikian, variabel asumsi dasar ekonomi makro tersebut sangat menentukan besarnya penerimaan dan pengeluaran negara, termasuk dana perimbangan, serta besarnya pembiayaan anggaran.

II.            ISI
Sejak awal pekan ini, rupiah konsisten menguat terhadap dollar Amerika Serikat. Meskipun, penguatan berlangsung perlahan dan tipis. Nilai rupiah menguat secara perlahan akibat indikator makroekonomi yang dipaparkan membaik pada awal Oktober. Indikator itu antara lain deflasi pada bulan September dan neraca perdagangan yang mulai surplus.
Berdasarkan kurs referensi JISDOR, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada akhir September sebesar Rp 11.613 per dollar AS. Kemudian pada awal Oktober berturut turut menguat menjadi Rp 11.593 dan Rp 11.568 per dollar AS.  Meski demikian, kekhawatiran gagal membayar utang pemerintah AS terus menyelimuti. Jika hal itu terjadi, negara-negara yang transaksi berjalannya defisit akan terkena dampak. Pasalnya, negara-negara dengan defisit berjalan cenderung mengandalkan aliran modal untuk menutupi defisit itu. Padahal, aliran modal dikhawatirkan mengering, dengan asumsi AS gagal bayar. Nilai rupiah pun bisa semakin terpuruk.
Pada akhir tahun, nilai rupiah diperkirakan mencapai Rp 10.700 per dolar AS. Dengan data ekonomi yang positif kembali atau kembali ke normal, maka rupiah akan menguat pada akhir tahun.
Neraca perdagangan pada Agustus 2013 surplus 130 juta dollar AS. Neraca perdagangan nonmigas surplus 1,03 miliar dollar AS, sedangkan defisit neraca perdagangan migas berkurang menjadi 900 juta dollar AS.
Adapun defisit transaksi berjalan mencapai 9,8 miliar dollar AS atau sekitar 4,3 persen produk domestik bruto. Transaksi berjalan defisit sejak tiwulan IV-2011.


III.            PENUTUP
Meski demikian, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, indonseia tetap harus berupaya mengurangi defisit transaksi berjalan. Dengan transaksi berjalan yang terjaga, Indonesia tidak perlu banyak dana asing saat AS mengurangi stimulus moneter.
Defisit yang semakin besar membuat rupiah semakin rawan terdepresiasi. Oleh karna itu, stabilitas perekonomian harus dijaga dengan perbaikan struktural di sejumlah bidang agar kinerja transaksi berjalan semakin membaik.


IV.            DAFTAR PUSTAKA

Koran Kompas Harian, Jum’at, 4 Oktober 2013, page20, nilaitukar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AKUNTANSI INTERNASIONAL DAN PERPAJAKAN

Nama               : Nurul Janah Syabania NPM                : 26213729 Kelas                : 4EB25 Mata Kuliah   : Akuntansi In...