Nama : Nurul Janah Syabania
NPM : 26213729
Kelas : 1EB20
I.
PENDAHULUAN
Nilai
tukar atau yang biasa dikenal dengan kurs adalah rasio pertukaran antara dua
mata uang yang berbeda negara. Atau dengan kata lain kurs dapat diartikan sebagai
harga satu unit mata uang asing yang dinyatakan dalam mata uang domestik. Nilai
tukar rupiah merupakan perbandingan antara nilai suatu uang negara dnegan negara lain. Nilai tukar rupiah menjadi salah satu indikator ekonomi
makro yang terkait dengan besaran APBN. Asumsi nilai tukar rupiah berhubungan
dengan banyaknya transaksi dalam APBN yang terkait dengan mata uang asing,
seperti penerimaan pinjaman dan pembayaran utang luar negeri, penerimaan minyak
dan pemberian subsidi BBM. Dengan demikian, variabel asumsi dasar ekonomi makro
tersebut sangat menentukan besarnya penerimaan dan pengeluaran negara, termasuk
dana perimbangan, serta besarnya pembiayaan anggaran.
II.
ISI
Sejak awal pekan ini, rupiah konsisten menguat terhadap
dollar Amerika Serikat. Meskipun, penguatan berlangsung perlahan dan tipis.
Nilai rupiah menguat secara perlahan akibat indikator makroekonomi yang
dipaparkan membaik pada awal Oktober. Indikator itu antara lain deflasi pada
bulan September dan neraca perdagangan yang mulai surplus.
Berdasarkan kurs referensi JISDOR, nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS pada akhir September sebesar Rp 11.613 per dollar AS.
Kemudian pada awal Oktober berturut turut menguat menjadi Rp 11.593 dan Rp
11.568 per dollar AS. Meski demikian,
kekhawatiran gagal membayar utang pemerintah AS terus menyelimuti. Jika hal itu
terjadi, negara-negara yang transaksi berjalannya defisit akan terkena dampak. Pasalnya,
negara-negara dengan defisit berjalan cenderung mengandalkan aliran modal untuk
menutupi defisit itu. Padahal, aliran modal dikhawatirkan mengering, dengan
asumsi AS gagal bayar. Nilai rupiah pun bisa semakin terpuruk.
Pada akhir tahun, nilai rupiah diperkirakan mencapai Rp
10.700 per dolar AS. Dengan data ekonomi yang positif kembali atau kembali ke
normal, maka rupiah akan menguat pada akhir tahun.
Neraca perdagangan pada Agustus 2013 surplus 130 juta dollar
AS. Neraca perdagangan nonmigas surplus 1,03 miliar dollar AS, sedangkan
defisit neraca perdagangan migas berkurang menjadi 900 juta dollar AS.
Adapun defisit transaksi berjalan mencapai 9,8 miliar dollar
AS atau sekitar 4,3 persen produk domestik bruto. Transaksi berjalan defisit
sejak tiwulan IV-2011.
III.
PENUTUP
Meski demikian, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,
indonseia tetap harus berupaya mengurangi defisit transaksi berjalan. Dengan
transaksi berjalan yang terjaga, Indonesia tidak perlu banyak dana asing saat
AS mengurangi stimulus moneter.
Defisit yang semakin besar membuat rupiah semakin rawan
terdepresiasi. Oleh karna itu, stabilitas perekonomian harus dijaga dengan
perbaikan struktural di sejumlah bidang agar kinerja transaksi berjalan semakin
membaik.
IV.
DAFTAR
PUSTAKA
Koran Kompas Harian, Jum’at, 4 Oktober
2013, page20, nilaitukar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar